..God point of view..

12 Jul 2008

Lagi hobby motret nih… gara-gara punya kamera baru. Biasanya kamera yang saya pakai hanya pocket kamera yang kecil yang bisa dengan mudahnya diselipkan ke dalam tas dan penggunaannya juga lebih mudah, hanya tinggal klik saja.

Kamera baru saya ini adalah kamera semi professional. Penggunaannya memang lebih ribet, tetapi hasilnya betul-betul memuaskan. Ukurannya juga lebih besar dan tentunya lebih berat, sehingga untuk membawanya butuh usaha tersendiri. Karena sedang lekat-lekatnya dengan kamera baru ini saya jadi tidak keberatan membawanya kemana-mana, seperti anak kecil yang punya mainan baru saya menjadi tidak merasa kerepotan membawa kamera yang besarnya lumayan itu kemanapun saya pergi.

Jadilah saya menenteng kamera plus perlengkapannya tanpa merasa terbebani. Semua hal saya jadikan objek. Dari mulai pemandangan alam, benda mati, makhluk hidup, dan yang paling sering adalah teman-teman, keluarga terutama keponakan-keponakan yang centil yang menjadi model dadakan.

feby-dan-foto-editan.jpg

Modelnya dadakan, fotografernya juga dadakan, jadilah sesi pemotretan menjadi ajang penuh canda dan tawa. Banyak sekali ekspresi yang saya dapatkan saat menjadi fotografer dadakan, dari mulai model yang malu-malu, hingga yang super percaya diri atau sebaliknya, malah ketagihan dan minta di foto terus.

Sebagai model saya memang sering difoto oleh fotografer, bukannya geer nih, tetapi karena jam terbang saya cukup tinggi saya jarang mendapatkan complain, kebanyakan mereka cukup puas dengan keluwesan saya di depan kamera. Dari pengalaman kilat menjadi fotografer saya jadi merasakan sendiri alangkah nikmatnya jika model yang saya potret luwes bergaya dan enak di pandang, hasil fotonya sendiri pasti akan bagus.

Karena sedang hobby mengintip dunia dari balik lensa, saya jadi membayangkan kalau hidup ini adalah session pemotretan, dimana kita jadi modelnya dan alam semesta menjadi fotographernya. Dalam session pemotretan kita akan bisa melihat, antara model yang bisa diajak bekerja sama dan tidak. Sang model yang mau bekerja sama pasti datang on time, disiplin dalam pekerjaan, tekun, tidak banyak menuntut, tetapi tetap kritis dan memberikan masukan dalam session pemotretan.

Bandingkan dengan model yang keras kepala, tidak mau diatur, datang serba terlambat dan sama sekali tidak mau diajak bekerja sama dengan fotografer. Saya yakin model seperti itu pasti membuat semua orang pusing. Apakah hasil foto akan memuaskan?

Rasanya tidak. Tetapi saat kita melihat hasil fotonya dan kecewa dengan hasilnya, kita berlagak seperti model yang sombong yang kurang pengalaman dan menyalahkan fotografer dengan teamnya. Kalau hidup di ibaratkan seperti helaian foto yang kita sejajarkan, kita akan bisa melihat mana saat-saat kita kooperatif dengan sang fotografer sehingga menjadikan hasil yang bagus, dan mana saat-saat dimana kita sedang berontak dan tidak kooperatif sehingga hasilnya tidak bagus.

Kalau kita memiliki fotografer yang terbaik, yang perlu kita lakukan adalah mempersiapkan diri datang ke session pemotretan, tidur cukup, jangan sampai terlambat dan persiapkan kondisi tubuh dan pikiran agar bisa mengikuti arahan sang fotografer.

Kira-kira begitu deh pikiran saya…asli dari hati..kalau ada yang salah kata..maaf yaaakalau mau comment boleh ajaaaawith love..Feby


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post